Featured Post

Recommended

Pembicaraan AS–Iran di Pakistan Belum Capai Kesepakatan, Diplomasi Dipastikan Berlanjut

Islamabad – Pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung maraton selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, belum menghasilkan ...

Hampir 2 Kg Sabu Dimusnahkan di Banda Aceh, Kurir Dibayar Rp40 Juta Terancam Hukuman Berat

Hampir 2 Kg Sabu Dimusnahkan di Banda Aceh, Kurir Dibayar Rp40 Juta Terancam Hukuman Berat

BANDA ACEHPolresta Banda Aceh memusnahkan barang bukti narkotika jenis sabu seberat 1.927,60 gram atau hampir 2 kilogram, Kamis (16/4/2026).


Pemusnahan dilakukan bersama Kejari Aceh Besar serta petugas keamanan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda di Meuligoe Rastra Sewakottama Polresta Banda Aceh.


Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Andi Kirana melalui Kasatresnarkoba AKP Muhammad Jabir menyampaikan, pemusnahan dilakukan setelah adanya penetapan status penyitaan dari pihak kejaksaan.

“Barang bukti yang dimusnahkan merupakan narkotika jenis sabu dengan berat hampir dua kilogram,” ujar Jabir.


Barang Bukti Positif Narkotika Golongan I

Sebelum dimusnahkan, barang bukti telah melalui uji Laboratorium Forensik Polri Cabang Medan dan dinyatakan mengandung metamfetamina, yang termasuk dalam narkotika golongan I sesuai Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009.


Sebanyak 44,40 gram disisihkan untuk kepentingan pembuktian di persidangan, sementara sisanya dimusnahkan.


Proses pemusnahan dilakukan dengan melarutkan sabu menggunakan alkohol, kemudian dihancurkan dan dibuang ke dalam septic tank, disaksikan oleh pihak terkait.


Terungkap dari Penangkapan di Bandara

Kasus ini bermula dari penangkapan seorang pria berinisial NF alias SN, warga Pidie, di Bandara Sultan Iskandar Muda, Blang Bintang, Aceh Besar.


Petugas keamanan bandara (Avsec) menemukan bungkusan mencurigakan di dalam koper pelaku saat pemeriksaan sebelum keberangkatan ke Jakarta. Setelah diperiksa, paket tersebut diketahui berisi sabu.


Kurir Dibayar Rp40 Juta, Jaringan Masih Dikembangkan

Dalam pemeriksaan, tersangka mengaku berperan sebagai kurir dan dijanjikan imbalan sebesar Rp40 juta. Ia juga mengaku telah beberapa kali melakukan pengiriman narkotika ke sejumlah daerah di Indonesia.


Polisi saat ini masih melakukan pengembangan untuk mengungkap jaringan yang terlibat dalam kasus tersebut.


Terancam Hukuman Berat

Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal berlapis terkait tindak pidana narkotika. Ia terancam hukuman berat, mulai dari pidana penjara jangka panjang hingga hukuman mati sesuai ketentuan yang berlaku.


Kasatresnarkoba mengimbau masyarakat untuk turut berperan aktif dalam pemberantasan narkotika.

“Kami mengajak masyarakat untuk melaporkan jika menemukan aktivitas mencurigakan. Kerahasiaan pelapor akan kami jamin,” kata Jabir.

Safrizal ZA Pastikan Progres Jembatan Rangka Baja Wih Porak Berjalan Lancar

Safrizal ZA Pastikan Progres Jembatan Rangka Baja Wih Porak Berjalan Lancar



Redelong – Kepala Pos Komando Wilayah Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Dr. Safrizal ZA, memastikan pembangunan jembatan rangka baja di bentang Sungai Wih Porak, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Bener Meriah, berjalan sesuai jadwal. Hal ini disampaikannya saat meninjau langsung progres penyiapan lahan di lokasi proyek, Rabu (15/4/2026).

Dalam kunjungannya, Safrizal melihat langsung proses pengerasan lahan yang menjadi fondasi utama sebelum pemasangan rangka baja dilakukan. Langkah ini krusial mengingat kawasan Wih Porak memiliki sejarah kerawanan bencana hidrometeorologi, termasuk banjir luapan yang sempat mengganggu akses transportasi ke Aceh Tengah pada awal April lalu.

"Kita ingin memastikan bahwa secara teknis, persiapan lahan ini benar-benar matang agar jembatan rangka baja sepanjang 40 meter ini nantinya memiliki daya tahan yang maksimal," ujar Safrizal saat berdialog dengan supervisor dari PT PP (Persero) Tbk di lapangan.

Untuk menjaga ritme kerja agar tetap lancar, Safrizal memberikan instruksi khusus kepada pihak kontraktor agar menempatkan tenaga kerja di lokasi yang dekat dengan titik proyek. Menurutnya, efisiensi waktu dan kedekatan koordinasi di lapangan adalah kunci percepatan pembangunan.




Terkait mobilitas warga saat ini, Safrizal memastikan bahwa jembatan darurat yang menggunakan rangkaian kontainer tetap fungsional dan aman dilintasi. Pihak PRR Aceh juga telah menyiagakan kontainer cadangan di sekitar lokasi sebagai langkah antisipasi cepat jika terjadi kendala tak terduga.

Selain di Wih Porak, Safrizal juga memantau kondisi Jembatan Bailey Umah Besi di Kecamatan Gajah Putih yang mengalami kerusakan struktur akibat beban tonase kendaraan yang berlebih.

Merespons kondisi tersebut, Safrizal bergerak cepat dengan melakukan koordinasi ke Pemerintah Pusat untuk pengiriman material Aramco. Material ini akan digunakan untuk memperkuat jembatan darurat yang sedang disiapkan, sehingga saat jembatan Bailey dibongkar untuk perbaikan total, arus logistik dan transportasi masyarakat tidak akan terputus.

"Komitmen kita adalah memastikan seluruh titik rawan di lintas ini segera tertangani dengan solusi teknis yang tepat dan cepat," pungkasnya. 
Pemkab Aceh Tamiang Jelaskan Alur Bantuan Banjir

Pemkab Aceh Tamiang Jelaskan Alur Bantuan Banjir



ACEH TAMIANG — Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang memberikan klarifikasi terkait simpang siur informasi mengenai pengelolaan bantuan bagi korban banjir bandang yang beredar di masyarakat.

Pemkab menegaskan bahwa dana bantuan, baik untuk perbaikan rumah maupun bantuan sosial, tidak dikelola langsung oleh pemerintah daerah, melainkan sepenuhnya berada di bawah kendali Pemerintah Pusat.

Juru Bicara Pemkab Aceh Tamiang, M. Farij, menjelaskan bahwa pemerintah daerah hanya berperan dalam proses pendataan, verifikasi lapangan, dan pengusulan penerima bantuan agar tepat sasaran.

“Pemerintah daerah tidak memegang fisik dana bantuan tersebut. Peran kami fokus pada pendataan, verifikasi faktual, serta memastikan penerima manfaat sesuai dengan data,” ujar Farij.

Ia menambahkan, mekanisme penyaluran bantuan telah diatur secara nasional dengan sistem yang ketat, transparan, dan berbasis data terpadu.

Dalam skema yang diterapkan, bantuan jaminan hidup (jadup) serta bantuan peralatan disalurkan melalui lembaga resmi seperti PT Pos Indonesia. Sementara itu, bantuan stimulan perbaikan rumah langsung ditransfer ke rekening penerima melalui perbankan, dalam hal ini Bank Syariah Indonesia (BSI).

Sistem ini dirancang untuk meminimalkan potensi penyimpangan serta memastikan penggunaan anggaran negara dapat dipertanggungjawabkan secara akuntabel.

“Anggapan bahwa dana bantuan mengendap di kas daerah adalah tidak tepat,” tegasnya.

Lebih lanjut, Farij menjelaskan bahwa pencairan bantuan perbaikan rumah dilakukan secara bertahap sesuai pedoman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Tahap awal sebesar 80 persen diberikan untuk memulai pembangunan, sedangkan sisa 20 persen dicairkan setelah adanya verifikasi progres di lapangan.

Ia juga mengakui adanya sejumlah kendala teknis di lapangan, terutama terkait administrasi seperti ketidaksesuaian data kependudukan, proses verifikasi ahli waris, hingga prosedur perbankan.

“Kendala teknis ini sering disalahartikan sebagai penundaan oleh daerah, padahal merupakan bagian dari prosedur keamanan administrasi dan perbankan,” jelas Farij.

Pemkab Aceh Tamiang mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, khususnya yang beredar di media sosial.

Pemerintah juga menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proses pemulihan pascabencana agar berjalan lancar dan tepat sasaran.

Masyarakat diharapkan merujuk pada sumber resmi guna menghindari kesalahpahaman yang dapat menghambat upaya pemulihan bersama di Aceh Tamiang.
Harga Minyak Dunia Tembus $103 per Barel Usai AS Umumkan Blokade Iran

Harga Minyak Dunia Tembus $103 per Barel Usai AS Umumkan Blokade Iran

Harga minyak dunia melonjak tajam hingga menembus angka psikologis $103 per barel setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana blokade terhadap Iran. Kebijakan ini memicu kekhawatiran besar di pasar energi global dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi internasional.

Lonjakan harga tersebut terjadi pada perdagangan Minggu, ketika minyak mentah Brent—patokan harga global—mengalami kenaikan lebih dari 8 persen. Kenaikan ini sekaligus menandai kembalinya harga minyak ke atas level $100 per barel, sebuah ambang penting yang terakhir kali terlampaui saat harga sempat menyentuh $111 per barel beberapa hari sebelumnya.

Keputusan AS untuk memberlakukan blokade diumumkan setelah gagalnya pembicaraan gencatan senjata antara Washington dan Teheran. Pemerintah AS melalui militer menyatakan akan mengerahkan angkatan laut untuk mengontrol lalu lintas kapal di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.

Namun, dalam pernyataan lanjutan, Komando Pusat AS menegaskan bahwa blokade tidak sepenuhnya total. Operasi tersebut hanya akan menargetkan kapal yang bepergian ke dan dari Iran, sementara kapal lain masih diizinkan melintas.

Blokade ini dijadwalkan mulai berlaku pada Senin pukul 10 pagi waktu AS atau sekitar 14.00 GMT. Meski demikian, ketidakpastian tetap tinggi karena potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Dampak Langsung ke Pasar Energi Global

Ketegangan geopolitik ini langsung berdampak pada harga energi. Sebelumnya, harga minyak sempat mengalami fluktuasi besar akibat konflik antara AS, Israel, dan Iran yang telah berlangsung selama beberapa minggu terakhir.

Setelah sempat menyentuh angka $119 per barel bulan lalu, harga minyak turun drastis hingga di bawah $92 per barel ketika kedua negara menyepakati gencatan senjata sementara selama dua minggu. Namun, kegagalan diplomasi terbaru kembali mendorong harga naik secara signifikan.

Iran sendiri sebelumnya sempat memberlakukan pembatasan lalu lintas di Selat Hormuz dengan sistem inspeksi ketat. Akibatnya, jumlah kapal yang melintas menurun drastis. Data dari perusahaan intelijen maritim menunjukkan bahwa hanya 17 kapal yang melintas dalam satu hari terakhir, jauh dibandingkan kondisi normal yang mencapai sekitar 130 kapal per hari.

Pasar Saham Asia Ikut Tertekan

Tidak hanya sektor energi, pasar saham global juga terkena dampak. Sejumlah indeks utama di Asia dibuka melemah pada awal pekan.

Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat turun sekitar 0,9 persen dalam perdagangan pagi. Sementara itu, indeks KOSPI di Korea Selatan mengalami penurunan lebih dari 1 persen.

Di sisi lain, kontrak berjangka saham Amerika Serikat juga menunjukkan tren negatif. Kontrak yang terkait dengan S&P 500 turun sekitar 0,8 persen, mencerminkan kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global.

Ancaman Terhadap Stabilitas Ekonomi Dunia

Para analis menilai bahwa lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik dapat berdampak luas terhadap ekonomi global. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan inflasi, memperlambat pertumbuhan ekonomi, dan menekan daya beli masyarakat di berbagai negara.

Selain itu, gangguan pada jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz dapat memperburuk kondisi pasokan global. Jika situasi terus memanas, bukan tidak mungkin harga minyak kembali melonjak ke level yang lebih tinggi.

Beberapa hal yang menjadi perhatian utama saat ini antara lain:

  • Potensi eskalasi konflik antara AS dan Iran
  • Gangguan lebih lanjut pada distribusi energi global
  • Dampak terhadap inflasi dan ekonomi dunia
  • Reaksi lanjutan dari pasar saham global

Selama ketegangan ini belum mereda, volatilitas harga minyak diperkirakan akan tetap tinggi. Investor dan pelaku pasar pun diimbau untuk tetap waspada terhadap perkembangan situasi geopolitik.

Lonjakan harga minyak hingga menembus $103 per barel menjadi sinyal kuat bahwa pasar global sangat sensitif terhadap konflik geopolitik, terutama yang melibatkan jalur strategis seperti Selat Hormuz. Kebijakan blokade oleh AS terhadap Iran telah memicu ketidakpastian besar yang tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga pasar keuangan global.

Jika situasi terus memburuk, dunia berpotensi menghadapi tekanan ekonomi yang lebih besar dalam waktu dekat.

Pembicaraan AS–Iran di Pakistan Belum Capai Kesepakatan, Diplomasi Dipastikan Berlanjut

Pembicaraan AS–Iran di Pakistan Belum Capai Kesepakatan, Diplomasi Dipastikan Berlanjut

IslamabadPembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung maraton selama 21 jam di Islamabad, Pakistan, belum menghasilkan kesepakatan. Namun demikian, kedua pihak dipastikan masih membuka ruang dialog lanjutan di tengah kompleksitas isu yang dibahas.


Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, yang memimpin delegasi Washington, menyatakan bahwa perbedaan mendasar masih menjadi penghambat utama tercapainya kesepakatan, khususnya terkait program nuklir Iran.


“Kami belum mencapai kesepakatan. Hal ini menunjukkan masih adanya perbedaan yang perlu dijembatani,” ujar Vance kepada wartawan usai pertemuan tingkat tinggi tersebut.


Isu Nuklir dan Keamanan Kawasan Jadi Fokus Utama

Amerika Serikat menekankan pentingnya komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, termasuk membatasi akses terhadap teknologi yang berpotensi mempercepat pengembangannya. Sementara itu, Iran menganggap isu tersebut perlu dibahas secara komprehensif bersama aspek keamanan regional lainnya.


Selain isu nuklir, pembahasan juga mencakup dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk posisi strategis Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global.


Iran Tekankan Proses Diplomasi Bertahap

Pemerintah Iran melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, menyampaikan bahwa sejak awal tidak ada ekspektasi kesepakatan dapat dicapai dalam satu putaran perundingan.


Ia menegaskan bahwa proses diplomasi membutuhkan waktu serta komunikasi berkelanjutan dengan berbagai pihak, termasuk negara-negara di kawasan.


Perbedaan Kepentingan Masih Tajam

Selain pembebasan aset yang dibekukan, Iran juga mengajukan sejumlah tuntutan lain seperti kompensasi konflik dan penguatan jaminan keamanan kawasan. Namun, sejumlah tuntutan tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan posisi Amerika Serikat dan sekutunya.


Di sisi lain, Israel sebagai sekutu AS tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan bahwa langkah militer terhadap Iran dan kelompok sekutunya masih akan berlanjut.


Pakistan Dorong Kelanjutan Dialog Damai

Sebagai tuan rumah sekaligus mediator, pemerintah Pakistan mendorong kedua pihak untuk terus melanjutkan dialog secara konstruktif.


Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, menyampaikan harapan agar proses negosiasi tetap berjalan dengan semangat positif guna mencapai perdamaian yang berkelanjutan di kawasan.


Dampak Global dan Stabilitas Energi

Ketegangan yang berlangsung tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga memicu kekhawatiran global, terutama terkait pasokan energi dunia. Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memengaruhi distribusi sekitar 20 persen minyak dan gas global.


Sejak konflik meningkat pada Februari 2026, ribuan korban jiwa dilaporkan dan sejumlah infrastruktur sipil maupun militer mengalami kerusakan.


Diplomasi Masih Menjadi Harapan

Meskipun belum tercapai kesepakatan, berbagai pihak menilai jalur diplomasi tetap menjadi solusi utama dalam meredakan ketegangan. Sejarah panjang negosiasi antara kedua negara menunjukkan bahwa proses menuju kesepakatan membutuhkan waktu, konsistensi, dan kepercayaan yang dibangun secara bertahap.

Pemerintah Siapkan Beras SPHP 2 Kg, Perluas Akses Pangan bagi Masyarakat Kecil

Pemerintah Siapkan Beras SPHP 2 Kg, Perluas Akses Pangan bagi Masyarakat Kecil


JAKARTA —
Pemerintah berencana menghadirkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dalam kemasan 2 kilogram (kg) sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap pangan terjangkau. Kebijakan ini diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah yang selama ini cenderung membeli beras dalam jumlah kecil.


Selama ini, beras SPHP yang disalurkan melalui Perum Bulog tersedia dalam kemasan 5 kg. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan masih banyak masyarakat yang hanya mampu membeli beras dalam kisaran 1 hingga 2 kg, terutama di pasar tradisional.


Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menilai penyediaan kemasan 2 kg akan memberikan ruang yang lebih luas bagi masyarakat dalam mengakses beras bersubsidi.


“Kalau kita melihat di pasar, memang masih ada masyarakat yang membeli beras dalam jumlah kecil, sekitar satu sampai dua kilogram. Karena itu, kemasan 2 kilogram menjadi relevan,” ujar Ketut di Jakarta, Jumat (10/4/2026).


Ia menambahkan, kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya kehadiran negara dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya kelompok rentan.


Penguatan Skema Distribusi dan Subsidi

Ketentuan mengenai variasi kemasan beras SPHP telah diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 34 Tahun 2026. Dalam beleid tersebut, Perum Bulog diperkenankan menyalurkan beras SPHP dalam dua jenis kemasan, yakni 5 kg dan 2 kg.


Sementara itu, kemasan 50 kg tetap dialokasikan secara khusus bagi wilayah tertentu seperti Maluku, Papua, serta daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP). Kebijakan ini mempertimbangkan kondisi geografis dan distribusi logistik di wilayah tersebut.


Pemerintah juga menetapkan batas maksimal pembelian beras SPHP di tingkat konsumen. Untuk kemasan 5 kg, masyarakat dapat membeli hingga lima kemasan, sedangkan untuk kemasan 2 kg dibatasi maksimal dua kemasan. Beras SPHP yang telah dibeli tidak diperkenankan untuk

 diperjualbelikan kembali karena mengandung unsur subsidi negara.


Baca Juga : Bupati Syech Muharram Bersama Ketum Tani Merdeka Don Muzakir Panen Raya Jagung di Aceh Besar

Menjaga Stabilitas Harga dan Inflasi

Program beras SPHP merupakan salah satu instrumen utama pemerintah dalam menjaga stabilitas harga pangan. Pada 2026, program ini ditargetkan mampu menyalurkan hingga 828 ribu ton beras dengan dukungan anggaran subsidi sebesar Rp4,97 triliun.


Distribusi beras SPHP difokuskan pada daerah non-sentra produksi padi serta wilayah yang tidak sedang mengalami panen raya. Langkah ini ditempuh untuk menjaga keseimbangan pasar sekaligus melindungi harga gabah petani agar tidak jatuh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP).


Data Badan Pangan Nasional mencatat, hingga 7 April 2026, realisasi penyaluran beras SPHP telah mencapai 82,8 juta kilogram. Capaian ini turut berkontribusi dalam menjaga inflasi beras tetap terkendali.


Berdasarkan data terbaru, inflasi beras secara bulanan pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,65 persen, sementara inflasi tahunan berada di level 3,71 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sempat mengalami lonjakan signifikan.


Respons terhadap Kebutuhan Masyarakat

Kepala Bapanas yang juga Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa kebijakan penyediaan kemasan 2 kg merupakan respons atas kebutuhan nyata masyarakat.


“Kalau masyarakat membutuhkan, pemerintah harus hadir. Ukuran kemasan bisa disesuaikan, yang penting kebutuhan rakyat terpenuhi,” ujarnya.


Dengan adanya variasi kemasan ini, pemerintah berharap distribusi beras SPHP semakin tepat sasaran serta mampu memperkuat ketahanan pangan nasional, khususnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

Mualem Lantik Tiga Kepala SKPA, Tekankan Percepatan Kinerja dan Serapan Anggaran

Mualem Lantik Tiga Kepala SKPA, Tekankan Percepatan Kinerja dan Serapan Anggaran


Banda Aceh – Gubernur Aceh, Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem, melantik tiga Kepala Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) dalam sebuah prosesi di Anjong Mon Mata, Komplek Meuligoe Gubernur Aceh, Jumat (10/4/2026).

Pelantikan tersebut berdasarkan keputusan pengangkatan Pegawai Negeri Sipil dalam jabatan pimpinan tinggi pratama di lingkungan Pemerintah Aceh.

Dalam pelantikan itu, T. Banta Nuzullah, S.Pd dipercaya sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Aceh (Eselon II.a), Muhammad Junaidi, SH, MH menjabat sebagai Kepala Sekretariat Majelis Adat Aceh (Eselon II.b), serta Gamal Abdul Nasir, S.STP, MM sebagai Kepala Biro Umum Sekretariat Daerah Aceh (Eselon II.b).

Usai mengambil sumpah jabatan, Mualem menekankan pentingnya kinerja yang baik dan penuh tanggung jawab dalam menjalankan amanah yang diberikan.

“Kerja yang baik dan bertanggung jawab. Segera selesaikan dan benahi hal-hal dalam pemerintahan,” ujar Mualem.

Mualem juga menyoroti kebijakan pola kerja empat hari dalam sepekan yang saat ini diterapkan, sehingga menurutnya para pejabat harus mampu memacu kinerja agar tetap optimal.

“Apalagi sekarang kerja di kantor empat hari seminggu, karena itu harus dipacu,” tegasnya.

Selain itu, Mualem meminta agar para kepala SKPA dapat memaksimalkan penyerapan anggaran dengan menjalankan berbagai program yang telah direncanakan, sehingga berdampak langsung pada perekonomian masyarakat.

“Sebanyak mungkin habiskan anggaran, jalankan program agar anggaran tahun ini terserap semaksimal mungkin dan berdampak pada ekonomi masyarakat,” katanya.

Mualem berharap, dalam empat tahun ke depan, para pejabat yang dilantik dapat berperan aktif dalam mengayomi dan mendorong kemajuan Aceh.

“Ini harapan kita semua supaya Aceh lebih baik dan maju. Selama empat tahun ke depan, bapak-bapaklah yang ikut berperan mengayomi Aceh,” pungkas Mualem.

Pelantikan itu turut dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Aceh Marlina Muzakir, Asisten Sekda Aceh, Staf Ahli Gubernur, seluruh Kepala SKPA dan Ketua DWP Aceh Malahayati 
Begini Cara Satgas PRR Manfaatkan Kayu Hanyutan di Wilayah Terdampak Bencana

Begini Cara Satgas PRR Manfaatkan Kayu Hanyutan di Wilayah Terdampak Bencana


Salah satu dampak bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat akhir tahun lalu ialah timbulnya kayu hanyutan yang terbawa arus banjir.

Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera terus mempercepat pemanfaatan kayu hanyutan dengan beragam cara, sebagai bagian strategi rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak. Ketua Satgas PRR Muhammad Tito Karnavian mengatakan telah merancang skema pemanfaatannya sebagai material membangun hunian hingga digunakan untuk kebutuhan kalangan industri.

"Kemudian juga (bisa) dipakai masyarakat membangun (hunian) sendiri juga silakan," kata Tito dalam konferensi pers di Gedung Bina Graha, Kantor Staf Presiden, Jakarta, Rabu (25/3/2026).

Data Satgas PRR pada 2 April 2026 mencatat realisasi pemanfaatan kayu hanyutan telah berjalan di sejumlah wilayah terdampak. Adapun rinciannya di Provinsi Aceh yang meliputi Kabupaten Aceh Utara mencatat volume kayu sebanyak 2.112,11 meter kubik telah dimanfaatkan untuk pembangunan huntara.

Sementara, di Kabupaten Aceh Tamiang terdapat 572,4 meter kubik kayu yang saat ini menunggu kebijakan pemerintah daerah untuk penetapan peruntukannya.

Di Provinsi Sumut yang meliputi Kabupaten Tapanuli Selatan terdapat 329,24 meter kubik kayu untuk pembangunan huntara, fasilitas sosial, dan fasilitas umum.  Sementara di Kabupaten Tapanuli Tengah, sebanyak 93,39 meter kubik kayu telah digunakan untuk mendukung pemulihan rumah warga terdampak.

Sementara itu, di Sumbar tepatnya di Kota Padang mencatat volume kayu hanyutan sebanyak 1.996,58 meter kubik telah diserahkan kepada pemerintah daerah untuk dimanfaatkan sesuai kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Tito mengatakan pemanfaatan kayu hanyutan untuk rehabilitasi dan rekontruksi pascabencana sejalan dengan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 191 tahun 2026, yang mengatur pemanfaatan kayu hanyutan akibat bencana sebagai sumber daya material untuk mendukung penanganan darurat, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Tito juga menekankan agar bagian kayu hanyutan yang berukuran kecil dan kurang ekonomis sebisa mungkin dimanfaatkan pemerintah daerah (pemda) agar bisa menjadi pemasukan asli daerah (PAD). Semisal dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan batu bata atau bahan bakar pembangkit listrik.

"Mekanismenya (melalui) kerja sama dan pendapatannya menjadi PAD (Pendapatan Asli Daerah)," kata Tito.

Lebih lanjut, Tito memastikan percepatan pemanfaatan kayu hanyutan akan terus dilakukan sampai seluruh tumpukan kayu hanyutan bersih di seluruh titik. Ia mengungkap kondisi terkini sudah sebagian besar tumpukan kayu hanyutan di tiga daerah terdampak berkurang signifikan.

"Kayu (hanyutan) di Aceh sekiar 70 persen sudah ditangani, ada 30 persen belum ditangani, terutama yang di pedalaman. Kemudian di Sumbar 99 persen tertangani, dan di Sumut sudah 90 persen di Tapanuli Tengah dan Tapanulis Selatan," kata Tito.