Berita Terbaru

20 Juni 2026

Kajian Ustaz Adi Hidayat Warnai Opening Ceremony Bhayangkara Fest 2026

Kajian Ustaz Adi Hidayat Warnai Opening Ceremony Bhayangkara Fest 2026

“Indonesia yang maju membutuhkan kolaborasi dari pemerintah, alim ulama, tokoh masyarakat, dunia usaha, generasi muda, hingga seluruh lapisan masyarakat. Karena itulah Bhayangkara Fest 2026 kami hadirkan sebagai ruang kolaborasi dalam semangat kebersamaan,”

ACEHMEDIACENTER.COMBanda Aceh — Opening Ceremony Bhayangkara Fest 2026 berlangsung meriah meski diguyur hujan, Jumat malam, 19 Juni 2026. Kajian Islami yang disampaikan Ustaz Dr. Adi Hidayat, Lc., M.A. semakin menambah antusiasme masyarakat yang hadir mengikuti rangkaian kegiatan.


Kajian bertema kebangsaan tersebut diharapkan mampu memperkuat nilai-nilai persatuan, kebersamaan, serta kecintaan terhadap Tanah Air, sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan dan keutuhan bangsa merupakan tanggung jawab bersama, baik sebagai umat beragama maupun sebagai warga negara.


Ketua Panitia Bhayangkara Fest 2026, Kombes Pol. Shobarmen, mengatakan bahwa acara itu mengusung tema “Kolaborasi Kreatif untuk Indonesia Maju”. Menurutnya, tema tersebut mencerminkan keyakinan bahwa kemajuan bangsa tidak dapat diwujudkan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi seluruh elemen bangsa, termasuk para ulama.


“Indonesia yang maju membutuhkan kolaborasi dari pemerintah, alim ulama, tokoh masyarakat, dunia usaha, generasi muda, hingga seluruh lapisan masyarakat. Karena itulah Bhayangkara Fest 2026 kami hadirkan sebagai ruang kolaborasi dalam semangat kebersamaan,” ujar Shobarmen.


Ia menjelaskan bahwa di tengah perkembangan zaman yang semakin dinamis, kreativitas menjadi salah satu kekuatan penting dalam melahirkan inovasi, membuka peluang ekonomi, memperkuat persatuan, serta menghadirkan solusi atas berbagai tantangan yang dihadapi bersama.


Menurutnya, melalui penyelenggaraan Bhayangkara Fest 2026, Polda Aceh ingin menunjukkan bahwa peringatan Hari Bhayangkara bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan menjadi momentum untuk mempererat hubungan yang harmonis antara Polri dan masyarakat.


Shobarmen juga menyampaikan, malam pembukaan Bhayangkara Fest 2026 dihadiri sebanyak 5.222 pengunjung. Jumlah tersebut mencerminkan tingginya antusiasme dan dukungan masyarakat terhadap penyelenggaraan rangkaian kegiatan Hari Bhayangkara ke-80 di Aceh.


Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram

Meski Hujan, Ribuan Masyarakat Antusias Hadiri Opening Ceremony Bhayangkara Fest 2026

Meski Hujan, Ribuan Masyarakat Antusias Hadiri Opening Ceremony Bhayangkara Fest 2026

Kajian bertema kebangsaan tersebut diharapkan mampu memperkuat nilai-nilai persatuan, kebersamaan, serta kecintaan terhadap Tanah Air, sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan dan keutuhan bangsa merupakan tanggung jawab bersama, baik sebagai umat beragama maupun sebagai warga negara.

ACEHMEDIACENTER.COMBanda Aceh — Ribuan masyarakat memadati Lapangan Mapolda Aceh untuk menghadiri Opening Ceremony Bhayangkara Fest 2026 yang dirangkai dengan Kajian Islami bersama Ustaz Dr. Adi Hidayat, Jumat malam, 19 Juni 2026. Meski diguyur hujan, antusiasme masyarakat tidak surut untuk mengikuti rangkaian acara dengan khidmat sebagai bagian dari peringatan Hari Bhayangkara ke-80.


Dalam sambutannya, Kapolda Aceh Irjen Pol. Drs. Marzuki Ali Basyah menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus apresiasi kepada seluruh tamu undangan dan masyarakat yang telah meluangkan waktu untuk menghadiri pembukaan Bhayangkara Fest 2026.


“Kehadiran saudara sekalian merupakan suatu kehormatan sekaligus energi positif bagi kami untuk terus memperkuat pengabdian kepada masyarakat, bangsa, dan negara. Apalagi di tengah-tengah kita malam ini hadir seorang ulama, cendekiawan, sekaligus pendakwah yang sangat dicintai masyarakat Indonesia, yaitu Ustaz Adi Hidayat,” kata Kapolda.


Kapolda juga menyampaikan penghargaan dan apresiasi kepada Ustaz Adi Hidayat atas kesediaannya mengisi Kajian Islami pada pembukaan Bhayangkara Fest 2026. Menurutnya, kajian bertema kebangsaan tersebut diharapkan mampu memperkuat nilai-nilai persatuan, kebersamaan, serta kecintaan terhadap Tanah Air, sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga persatuan dan keutuhan bangsa merupakan tanggung jawab bersama, baik sebagai umat beragama maupun sebagai warga negara.


Alumnus Akabri 1991 itu menjelaskan bahwa Bhayangkara Fest tahun ini dirancang sebagai ruang kebersamaan yang terbuka bagi seluruh masyarakat Aceh. Berbagai agenda menarik disiapkan, mulai dari kajian islami, perlombaan kreatif bagi generasi muda, kegiatan olahraga yang mendorong gaya hidup sehat, hingga pertunjukan seni dan hiburan musik sebagai wadah ekspresi budaya serta kreativitas masyarakat.


“Para pelaku usaha lokal dan UMKM diberikan kesempatan untuk memperkenalkan produk-produk terbaik mereka kepada masyarakat luas dalam Bhayangkara Fest ini. Kita semua memahami bahwa UMKM merupakan tulang punggung perekonomian daerah. Mereka tidak hanya menciptakan lapangan pekerjaan, tetapi juga menjaga daya tahan ekonomi masyarakat di tengah berbagai tantangan yang ada,” ujar jenderal dari Tangse itu.


Oleh karena itu, Kapolda Aceh mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung produk-produk lokal, mencintai karya anak bangsa, serta memberikan ruang tumbuh bagi para pelaku usaha kecil agar dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang semakin besar. Menurutnya, keberhasilan suatu daerah tidak hanya diukur dari stabilitas keamanannya, tetapi juga dari tingkat kesejahteraan masyarakatnya.


Di akhir sambutannya, jenderal bintang dua tersebut juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan penyelenggaraan Bhayangkara Fest 2026. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi simbol kebersamaan yang semakin mempererat hubungan antara Polri dan masyarakat.


“Semoga seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan aman, tertib, lancar, dan membawa manfaat yang sebesar-besarnya bagi seluruh masyarakat Aceh,” tutupnya.


Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram

Pemulihan Pascabencana Sumatra, 107 Ruas Jalan Nasional dan 43 Jembatan Kembali Fungsional

Pemulihan Pascabencana Sumatra, 107 Ruas Jalan Nasional dan 43 Jembatan Kembali Fungsional

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo (dua dari kiri), menghadiri Rapat Koordinasi Tingkat Menteri pada Kamis (18/6/2026) untuk membahas perkembangan percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. (Foto: Humas KemenPU)

Hingga 17 Juni 2026, pemulihan konektivitas nasional menunjukkan kemajuan signifikan. Sebanyak 107 ruas jalan nasional dan 43 jembatan nasional yang terdampak bencana telah kembali berfungsi sepenuhnya.

ACEHMEDIACENTER.COM | Jakarta – Pemerintah terus mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat guna memastikan aktivitas masyarakat serta perekonomian daerah segera pulih.


Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Tingkat Menteri yang dihadiri Menteri Pekerjaan Umum (Menteri PU), Dody Hanggodo, di Jakarta, Kamis (18/6/2026), yang membahas perkembangan penanganan infrastruktur dan percepatan pemulihan wilayah terdampak bencana di tiga provinsi tersebut.


Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi berjalan lebih cepat, efektif, dan berkelanjutan.


"Kementerian PU dapat memberikan izin dan melaksanakan normalisasi sungai sesuai kewenangan yang ada. Namun untuk pengelolaan material hasil galiannya, diperlukan keterlibatan Kementerian ESDM agar terdapat kepastian regulasi dan mekanisme pengelolaan material sehingga proses normalisasi sungai dapat berjalan lebih cepat dan efektif," ujar Dody.


Hingga 17 Juni 2026, pemulihan konektivitas nasional menunjukkan kemajuan signifikan. Sebanyak 107 ruas jalan nasional dan 43 jembatan nasional yang terdampak bencana telah kembali berfungsi sepenuhnya.


Sementara itu, pada infrastruktur daerah, sebanyak 2.270 dari total 2.421 ruas jalan daerah telah kembali fungsional. Adapun penanganan jembatan daerah telah mencapai 796 unit dari total 1.181 jembatan terdampak.


Di sektor sumber daya air dan permukiman, pemerintah juga berhasil memulihkan seluruh 178 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang terdampak bencana sehingga kembali melayani masyarakat.


Selain itu, pembangunan hunian pascabencana terus berjalan dengan capaian 1.554 unit rumah dari total kebutuhan yang telah ditetapkan di 18 lokasi.


Kementerian PU juga mencatat penyelesaian penanganan 429 sekolah, madrasah, dan pondok pesantren yang terdampak bencana, disertai pemulihan berbagai fasilitas kesehatan, peribadatan, perkantoran pemerintah, serta sarana olahraga.


Untuk mengurangi risiko bencana lanjutan, pemerintah turut membangun infrastruktur pengendali sedimen berupa 111 unit sabo dam yang terdiri atas 97 sabo dam dan 14 sand pocket di wilayah terdampak.


Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno menegaskan pentingnya sinergi antarlembaga agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi tidak terkendala persoalan regulasi.


"Kita perlu memastikan tidak ada keraguan maupun hambatan regulasi yang dapat menghambat langkah-langkah percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah terdampak. Selain percepatan pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian juga harus diperkuat agar setiap program berjalan tepat sasaran, transparan, dan akuntabel," kata Pratikno.


Sementara itu, Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian mengapresiasi respons cepat Kementerian PU dalam mengerahkan personel dan alat berat ke wilayah terdampak sehingga proses pemulihan infrastruktur dapat berjalan optimal.


Melalui Program Padat Karya Tunai (PKT), pemerintah juga mendorong pemulihan ekonomi masyarakat dengan realisasi anggaran Rp37,77 miliar yang melibatkan 6.165 tenaga kerja di daerah terdampak.


Kementerian PU menegaskan akan terus mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi dengan prinsip build back better, sehingga infrastruktur yang dibangun kembali menjadi lebih tangguh, aman, dan mampu mendukung pemulihan sosial ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram

Pasca Gempa M 6,7 di Sulteng, Kementerian PU Pastikan Jembatan Palu Satu dan Palu Empat Aman

Pasca Gempa M 6,7 di Sulteng, Kementerian PU Pastikan Jembatan Palu Satu dan Palu Empat Aman

"Sejak awal terjadinya bencana, Kementerian PU telah bergerak cepat dengan menurunkan tim personel untuk melakukan respons darurat, inspeksi infrastruktur terdampak, serta mendukung komando penanganan darurat daerah," 

ACEHMEDIACENTER.COM | Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) memastikan Jembatan Palu Satu dan Jembatan Palu Empat tetap aman digunakan setelah gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 6,7 mengguncang Provinsi Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026).


Kepastian tersebut diperoleh setelah tim teknis Kementerian PU melakukan pemeriksaan lanjutan secara detail terhadap kedua jembatan yang menjadi infrastruktur strategis penghubung di Kota Palu.


Menteri Pekerjaan Umum (Menteri PU), Dody Hanggodo, mengatakan, pihaknya bergerak cepat sejak awal kejadian dengan menurunkan personel untuk melakukan respons darurat, inspeksi infrastruktur terdampak, serta mendukung penanganan bencana di daerah.


"Sejak awal terjadinya bencana, Kementerian PU telah bergerak cepat dengan menurunkan tim personel untuk melakukan respons darurat, inspeksi infrastruktur terdampak, serta mendukung komando penanganan darurat daerah," ujar Dody dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).


Melalui Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah, Kementerian PU melakukan pemantauan dan pemeriksaan sejumlah ruas jalan serta jembatan di wilayah terdampak, meliputi Kota Palu, Kabupaten Sigi, Poso, Donggala, dan Parigi Moutong.


Tim teknis BPJN Sulawesi Tengah kemudian melaksanakan pemeriksaan lanjutan terhadap Jembatan Palu Satu dan Jembatan Palu Empat untuk memastikan kondisi struktur kedua jembatan pascagempa.


Berdasarkan hasil inspeksi, tidak ditemukan kerusakan struktur pada kedua jembatan tersebut sehingga dinyatakan aman dan tetap dapat digunakan untuk mendukung mobilitas masyarakat serta aktivitas perekonomian.


Selain melakukan pemeriksaan infrastruktur, Kementerian PU juga mendukung percepatan penanganan dampak gempa di lapangan. Pada Rabu (17/6/2026), BPJN Sulawesi Tengah mengirimkan satu unit alat berat ke Desa Kamarora, Kecamatan Nokilalaki, Kabupaten Sigi untuk membantu pembersihan material dan membuka akses jalan yang terdampak.


Langkah tersebut dilakukan agar distribusi bantuan dan mobilitas masyarakat dapat kembali berjalan lancar.


BPJN Sulawesi Tengah juga berkoordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum Kota Palu terkait kondisi Jembatan Palu Tiga yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota Palu. Kementerian PU menyatakan siap memberikan dukungan dan advis teknis apabila diperlukan.


Menteri Dody menegaskan Kementerian PU akan terus memantau kondisi infrastruktur strategis di wilayah terdampak guna memastikan keselamatan masyarakat serta menjaga konektivitas dan kelancaran aktivitas ekonomi pascabencana.


"Langkah cepat ini merupakan bagian dari komitmen Kementerian PU dalam penanganan bencana melalui penyediaan infrastruktur yang andal, aman, dan tangguh," tegasnya.

Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram

18 Juni 2026

12 Jamaah Haji Aceh Wafat di Tanah Suci, PPIH Sampaikan Duka Mendalam

12 Jamaah Haji Aceh Wafat di Tanah Suci, PPIH Sampaikan Duka Mendalam


Berdasarkan data PPIH Embarkasi Aceh, hingga 18 Juni 2026 terdapat 12 jamaah haji asal Aceh yang wafat di Tanah Suci. Mereka berasal dari Kota Lhokseumawe, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Selatan, Bireuen, Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, dan Aceh Tamiang

ACEHMEDIACENTER.COM | Banda Aceh - Sebanyak 12 jamaah haji asal Embarkasi Banda Aceh (BTJ) dilaporkan wafat di Tanah Suci selama pelaksanaan ibadah haji 1447 H/2026 M. Para jamaah yang berasal dari sejumlah kabupaten dan kota di Aceh tersebut meninggal dunia akibat berbagai faktor kesehatan dan telah dimakamkan di lokasi pemakaman suci di Arab Saudi.


Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi Aceh, Drs. H. Arijal, M.Si., mengatakan hingga Kamis (18/6/2026), tercatat 12 jamaah haji asal Aceh wafat saat menunaikan ibadah haji di Arab Saudi.


"Berdasarkan data PPIH Embarkasi Aceh, hingga 18 Juni 2026 terdapat 12 jamaah haji asal Aceh yang wafat di Tanah Suci. Mereka berasal dari Kota Lhokseumawe, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Selatan, Bireuen, Pidie, Aceh Besar, Pidie Jaya, dan Aceh Tamiang," ujar Arijal didampingi Humas PPIH Embarkasi Aceh, H. Darwin. 


Ia menjelaskan, sebagian besar jamaah meninggal dunia akibat gangguan kesehatan, seperti serangan jantung, gagal napas, penyakit ginjal kronis, serta komplikasi penyakit penyerta lainnya.


Atas peristiwa tersebut, PPIH Embarkasi Aceh menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada seluruh keluarga jamaah yang ditinggalkan.


"Atas nama PPIH Embarkasi Aceh dan seluruh petugas haji, kami menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya para jamaah haji Aceh di Tanah Suci. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah mereka, mengampuni segala dosa dan khilafnya, serta menempatkan mereka di tempat terbaik di sisi-Nya," kata Arijal.


PPIH juga mengajak keluarga yang ditinggalkan untuk menerima musibah tersebut dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Kehilangan orang tua, suami, istri, maupun anggota keluarga tercinta tentu menjadi ujian yang berat. Namun, wafat saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci merupakan kemuliaan yang diharapkan oleh setiap Muslim.


"Kami mengajak seluruh keluarga untuk bersabar dan ikhlas menerima ketetapan Allah SWT. Mari kita doakan agar seluruh jamaah yang wafat memperoleh husnul khatimah, diampuni segala dosanya, dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, ketabahan, dan kelapangan hati," lanjutnya.


Kepergian para jamaah tersebut juga meninggalkan kenangan mendalam bagi petugas haji dan keluarga. Belum lama berselang, mereka masih mengikuti rangkaian persiapan keberangkatan di Asrama Haji Embarkasi Aceh. Selama masa karantina, para jamaah menjalani pemeriksaan kesehatan akhir, menerima dokumen perjalanan, mengikuti bimbingan manasik terakhir, hingga menerima uang saku (living cost) sebagai bekal selama berada di Arab Saudi.


PPIH Embarkasi Aceh memastikan seluruh jamaah yang wafat telah mendapatkan pelayanan terbaik dari petugas haji di Arab Saudi, mulai dari proses pemulasaran jenazah hingga pemakaman sesuai ketentuan syariat dan regulasi yang berlaku. Para jamaah tersebut dimakamkan di sejumlah lokasi pemakaman suci, seperti Jannatul Baqi di Madinah dan pemakaman Syaraya di Makkah.


Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah juga menjamin pemenuhan hak-hak jamaah yang wafat. Bagi jamaah yang belum sempat menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah haji, telah dilakukan badal haji sesuai ketentuan yang berlaku, begitu juga dan dokumen terkait hak jamaah dan administrasi lainnya, akan diproses dan diserahkan kepada ahli waris setelah operasional penyelenggaraan ibadah haji selesai.


PPIH Embarkasi Aceh mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk mendoakan para jamaah yang telah berpulang agar memperoleh rahmat dan ampunan Allah SWT serta mendapatkan predikat haji yang mabrur.


"Semoga para dhuyufurrahman yang wafat di Tanah Suci memperoleh husnul khatimah, diterima seluruh amal ibadahnya, serta ditempatkan di surga terbaik. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesabaran, kekuatan, dan keikhlasan. Amin ya Rabbal Alamin," tutupnya. 


Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram

Syech Muharram Tegaskan Beut Kitab Bak Sikula Program Prioritas Aceh Besar

Syech Muharram Tegaskan Beut Kitab Bak Sikula Program Prioritas Aceh Besar


Program Beut Kitab Bak Sikula bukan sekadar program pendidikan biasa, melainkan bagian dari visi besar Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk membangun fondasi akhlak generasi masa depan.

ACEHMEDIACENTER.COM | Aceh Besar – Pemerintah Kabupaten Aceh Besar terus menunjukkan komitmennya dalam membangun generasi yang unggul secara intelektual dan kuat dalam nilai-nilai Islam. Komitmen tersebut diwujudkan melalui program unggulan Beut Kitab Bak Sikula, yang kini resmi memasuki tahap implementasi di sekolah-sekolah setelah melalui proses seleksi, bimbingan teknis, dan peusijuek para guru.


Prosesi peusijuek dan penyerahan guru Beut Kitab Bak Sikula berlangsung khidmat di halaman Gedung Dekranasda Aceh Besar, Kamis (18/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Aceh Besar Drs. Syukri A. Jalil, Sekda Aceh Besar Bahrul Jamil SSos MSi, unsur Forkopimda, para kepala OPD, pimpinan dayah, alim ulama, serta ratusan guru Beut Kitab Bak Sikula yang akan ditempatkan di berbagai satuan pendidikan di Aceh Besar.


Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris atau yang akrab disapa Syech Muharram menegaskan bahwa program Beut Kitab Bak Sikula bukan sekadar program pendidikan biasa, melainkan bagian dari visi besar Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk membangun fondasi akhlak generasi masa depan.


“Program ini adalah salah satu prioritas Pemerintah Kabupaten Aceh Besar. Kami meyakini bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas akhlak dan pemahaman agama generasi mudanya,” ujar Syech Muharram.


Ia mengungkapkan bahwa gagasan menghadirkan pembelajaran kitab di lingkungan sekolah telah lama menjadi cita-cita dirinya bersama Wakil Bupati Syukri A. Jalil, bahkan sebelum keduanya dipercayakan untuk memimpin Aceh Besar.


“Kami mewacanakan program ini jauh sebelum menjadi bupati dan wakil bupati. Alhamdulillah, dengan izin Allah SWT, hari ini program tersebut dapat diwujudkan dan mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” katanya.


Menurut Syech Muharram, kolaborasi antara pendidikan formal dan pendidikan dayah merupakan langkah strategis dalam memperkuat karakter generasi muda di tengah berbagai tantangan zaman.


“Selama ini mungkin tidak banyak yang membayangkan guru-guru dayah hadir mengajar di sekolah umum. Hari ini hal itu menjadi kenyataan. Ini adalah bentuk sinergi yang sangat baik antara dunia pendidikan formal dan tradisi keilmuan dayah yang telah menjadi identitas Aceh,” ujarnya.


Program Beut Kitab Bak Sikula akan menjangkau sekitar 29 ribu siswa di berbagai sekolah SD dan SMP.dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar. Melalui program tersebut, para siswa akan mendapatkan penguatan ilmu fardu 'ain dan pemahaman dasar-dasar agama Islam secara terstruktur.


Syech Muharram berharap seluruh peserta didik memiliki bekal keagamaan yang sama sehingga mampu tumbuh menjadi generasi yang kuat secara akidah, berkarakter dan berakhlakul karimah, serta siap menjadi pemimpin di berbagai bidang kehidupan.


“Kami ingin seluruh anak Aceh Besar memahami ilmu agama dengan baik. Kita berharap dari sekolah-sekolah ini lahir pemimpin-pemimpin masa depan, baik pemimpin bangsa, pemimpin daerah, maupun pemimpin umat yang memiliki dasar agama yang kuat,” tegasnya.


Kepada para guru Beut Kitab Bak Sikula, Syech Muharram berpesan agar menjadi teladan di lingkungan sekolah. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh materi yang diajarkan, tetapi juga oleh keteladanan yang ditunjukkan para pendidik.


“Guru harus menjadi contoh yang baik bagi siswa. Jaga etika, disiplin, dan perilaku sehari-hari. Kebiasaan yang kurang baik (seperti merokok) jangan dibawa ke lingkungan sekolah karena anak-anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar, tetapi juga dari apa yang mereka lihat,” pesannya.


Ia juga meminta para kepala sekolah untuk memberikan dukungan penuh kepada para guru Beut Kitab Bak Sikula agar proses pembelajaran berjalan efektif dan memberikan dampak nyata bagi peserta didik.


Menurutnya, keberhasilan program tersebut membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, hingga orang tua siswa.


“Orang tua, kepala sekolah, dan guru harus berjalan seiring. Pendidikan karakter dan agama tidak mungkin berhasil jika dilakukan sendiri-sendiri. Kita harus saling mendukung demi masa depan anak-anak Aceh Besar,” harapnya.


Syech Muharram turut mengarahkan agar pelaksanaan pembelajaran Beut Kitab Bak Sikula ditempatkan pada jam-jam awal pembelajaran agar siswa dapat mengikuti pelajaran dalam kondisi terbaik.


“Kalau bisa dilaksanakan pada jam pertama dan kedua. Saat itu anak-anak masih segar, semangat belajar masih tinggi, sehingga ilmu yang disampaikan lebih mudah diterima,” jelasnya.


Sementara itu, ketua panitia pelaksana Tgk Munawar dalam laporannya menyampaikan bahwa program tersebut merupakan salah satu ikhtiar Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dalam memperkuat pendidikan agama di lingkungan sekolah.


“Seluruh tahapan mulai dari seleksi terbuka, bimbingan teknis hingga hari ini dilakukan prosesi peusijuek. Hari ini para guru resmi kami serahkan kepada kepala sekolah untuk menjalankan tugas di satuan pendidikan masing-masing,” jelasnya.


Panitia berharap para guru dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan sekolah serta mendapat dukungan dari seluruh pihak agar tujuan besar program ini dapat tercapai. 


Kegiatan tersebut juga diisi tausiah oleh ulama kharismatik Aceh, Tgk H. Athailah (Abu Ulee Titi), yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memperkuat pendidikan agama sebagai fondasi utama dalam membentuk generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.


Melalui Beut Kitab Bak Sikula, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter dan spiritualitas peserta didik sebagai bekal menghadapi masa depan.


Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram

Buka Al Farabi Inspiration Day 2026, Farhan AP Tegaskan Penggunaan Bahasa Aceh di Sekolah

Buka Al Farabi Inspiration Day 2026, Farhan AP Tegaskan Penggunaan Bahasa Aceh di Sekolah


Kehadiran sekolah ini menambah pilihan sekolah unggulan di Aceh Besar. Kita berharap tidak semua terpusat di Banda Aceh, karena Aceh Besar memiliki wilayah yang luas untuk pengembangan pendidikan

ACEHMEDIACENTER.COM | Banda Aceh — Asisten I Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Aceh Besar Bidang Tata Pemerintahan, Keistimewaan, dan Kesejahteraan Rakyat, Farhan AP, mendorong penguatan penggunaan Bahasa Aceh di lingkungan pendidikan sebagai upaya menjaga identitas lokal yang kian tergerus. Hal tersebut disampaikan Farhan AP mewakili Bupati Aceh Besar saat membuka Al Farabi Inspiration Day 2026, di Aula Landmark BSI Aceh, Banda Aceh, Kamis (18/6/2026).


Dalam kesempatan itu, Farhan mengapresiasi SMP IT Al Farabi Bilingual School yang memilih Aceh Besar sebagai lokasi pengembangan pendidikan.


“Kehadiran sekolah ini menambah pilihan sekolah unggulan di Aceh Besar. Kita berharap tidak semua terpusat di Banda Aceh, karena Aceh Besar memiliki wilayah yang luas untuk pengembangan pendidikan,” ujarnya.


Ia menilai menjamurnya sekolah unggulan, baik boarding maupun non-boarding, menjadi pemicu persaingan positif dalam meningkatkan mutu pendidikan di daerah.


Namun, Farhan mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara penguasaan bahasa asing dan pelestarian bahasa daerah.


“Tadi disebutkan ada Bahasa Inggris, Arab, dan Turki. Lalu, di mana Bahasa Aceh?” katanya.




Menurut Farhan, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar telah mengeluarkan surat edaran sejak 2021 yang mewajibkan penggunaan Bahasa Aceh setiap hari Kamis, yang kemudian diperkuat oleh kebijakan serupa dari Pemerintah Aceh pada 2025.


Ia menegaskan, kebijakan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan langkah konkret menyelamatkan Bahasa Aceh yang kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan.


“Berdasarkan riset UNESCO, Bahasa Aceh termasuk bahasa yang terancam punah dan diperkirakan hanya bertahan 20 hingga 25 tahun ke depan jika tidak dilestarikan,” ungkapnya.


Farhan juga menyoroti fenomena berkurangnya penggunaan Bahasa Aceh di lingkungan keluarga.


“Kita masih bisa berbahasa Aceh, anak kita hanya mengerti tapi tidak bisa berbicara. Jika ini terus terjadi, generasi berikutnya bisa jadi tidak lagi memahami Bahasa Aceh,” jelasnya.


Karena itu, ia berharap SMP IT Al Farabi dapat menjadi contoh dalam mengimplementasikan kewajiban penggunaan Bahasa Aceh, khususnya setiap hari Kamis, meski tetap mengedepankan bahasa asing sebagai kompetensi global.


“Kita tidak anti bahasa asing, tapi jangan sampai bahasa daerah ditinggalkan. Hari Kamis harus benar-benar dihidupkan dengan Bahasa Aceh,” tegasnya.


Selain itu, Farhan juga berharap sekolah tersebut dapat menjadi model pengembangan pendidikan di Aceh Besar serta berkontribusi dalam memberikan masukan terhadap kebijakan pendidikan daerah.


Ia turut berpesan kepada para siswa agar terus melanjutkan pendidikan dan berani merantau untuk membangun kemandirian.


“Ini bukan akhir, tetapi awal perjalanan baru. Terus belajar dan bersaing untuk masa depan yang lebih baik,” pesannya.


Sementara itu, Ketua Yayasan Komite Kemanusiaan Indonesia Aceh (KKIA), Dr. Jalaluddin, S.T., M.A, menyampaikan bahwa SMP IT Al Farabi yang baru berusia dua tahun telah menunjukkan perkembangan signifikan meski berangkat dari keterbatasan.


Ia juga mengungkapkan rencana pengembangan sarana sekolah, termasuk pembebasan lahan untuk pembangunan fasilitas yang lebih representatif.


“Kami mengajak seluruh pihak untuk berpartisipasi melalui wakaf sebagai bagian dari amal jariyah dalam memajukan pendidikan,” ujarnya.


Direktur Pendidikan Yayasan, Syakir Daulay, menambahkan bahwa SMP IT Al Farabi telah meraih sejumlah prestasi, di antaranya Juara 2 Duta Sadar Hukum Aceh Besar serta mewakili daerah pada Olimpiade PAI tingkat provinsi.


Ia menegaskan bahwa fokus utama sekolah adalah menjaga mutu pendidikan dengan memadukan kompetensi global dan nilai-nilai keislaman.


Kepala SMP IT Al Farabi, Siti Kembang Ati, S.Pd., Gr., menyampaikan bahwa wisuda siswa kelas IX menjadi awal perjalanan baru bagi para siswa.


“Hari ini bukan akhir, tetapi langkah awal menuju cita-cita yang lebih besar,” ujarnya.


Acara tersebut turut dihadiri Ketua DPRK Banda Aceh Irwansyah ST, perwakilan BSI, Danramil 11/Darul Imarah Kodim 0101/KBA Kapten Arh Hamka Siregar, serta tamu undangan lainnya.



Kunjungi Juga Media Sosial Kami di : Facebook | Instagram