Festival Budaya Lampuuk 2026 Didorong Jadi Penggerak Ekonomi Aceh Besar dan Penguat Identitas Daerah

Ketua DPRK Aceh Besar, Abdul Muchti SI.Kom foto bersama seusai pembukaan Festival Srimusim Lampuuk 2026 di Sekolah Adat Srimusim Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, Kamis (30/04/2026). FOTO/MC ACEH BESAR

KOTA JANTHO
– Festival Budaya Lampuuk 2026 didorong menjadi penggerak ekonomi Aceh Besar sekaligus memperkuat identitas daerah berbasis adat dan budaya lokal. Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menilai kegiatan seperti ini memiliki dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya sektor UMKM dan pariwisata.

Festival Srimusim Lampuuk 2026 yang digelar di Sekolah Adat Srimusim, Meunasah Masjid Lampuuk, Kecamatan Lhoknga, Kamis (30/4/2026), menjadi contoh konkret bagaimana festival budaya mampu menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha lokal.

Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris yang diwakili Asisten I Sekdakab Aceh Besar Bidang Tata Pemerintahan, Keistimewaan, dan Kesejahteraan Rakyat, Farhan AP, hadir langsung dalam pembukaan festival tersebut.

Dalam kesempatan itu, Farhan turut menerima syal Sekolah Adat Srimusim dari Direktur Komunitas Tikar Pandan, Yulfan, sebagai simbol dukungan terhadap pelestarian adat dan budaya masyarakat Lampuuk.

Kegiatan ini juga dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Anggota DPD RI Darwati A. Gani, Ketua DPRK Aceh Besar Abdul Muchti, anggota DPRK, kepala OPD, unsur Muspika, tokoh adat, mahasiswa, serta masyarakat setempat.

Festival tersebut secara resmi dibuka oleh Ketua DPRK Aceh Besar, Abdul Muchti, yang dalam sambutannya menegaskan bahwa festival budaya bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari ketahanan budaya masyarakat.

“Festival ini menjadi ruang dialog sosial dan budaya. Kita tidak ingin identitas kita luntur oleh zaman. Kegiatan seperti sekolah adat, workshop hikayat, hingga teater rakyat adalah bentuk refleksi sosial yang sangat penting,” ujar Abdul Muchti.

Ia juga menekankan bahwa festival budaya dapat menjadi strategi efektif dalam menggerakkan ekonomi masyarakat. Menurutnya, semakin banyak festival digelar, maka peluang pertumbuhan UMKM dan peningkatan kunjungan wisatawan akan semakin besar.

“Bayangkan jika dalam satu tahun Aceh Besar mampu menggelar ratusan festival. UMKM akan hidup, wisatawan datang, dan potensi alam yang kita miliki dapat dimanfaatkan secara optimal,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai syariat Islam dan adat istiadat dalam setiap kegiatan, serta memperkuat peran pemuda gampong sebagai garda terdepan dalam menjaga ketertiban sosial berbasis kearifan lokal.

Sementara itu, tokoh masyarakat Lampuuk, Tgk. Hamdan Hasyim, menyampaikan aspirasi masyarakat terkait persoalan tata ruang dan status hutan lindung yang dinilai masih menjadi kendala dalam pengembangan ekonomi warga.

Ia mengungkapkan bahwa Lampuuk sejak dahulu dikenal sebagai wilayah yang memiliki potensi komoditas unggulan seperti lada, cengkeh, dan pinang. Selain itu, tanaman melinjo atau bak bin juga memiliki nilai sosial yang tinggi sebagai simbol silaturahmi dalam masyarakat.

“Masyarakat berharap pemerintah segera menyelesaikan persoalan tata ruang agar kami dapat mengelola sumber daya secara aman dan berkelanjutan tanpa rasa khawatir,” ujarnya.

Direktur Komunitas Tikar Pandan, Yulfan, dalam laporannya menyampaikan bahwa Festival Srimusim Lampuuk merupakan bagian dari upaya membangun ruang dialog berbasis adat dan budaya dalam merespons berbagai persoalan masyarakat, termasuk isu lingkungan dan pengelolaan hutan.

“Festival ini bukan hanya tentang hiburan, tetapi bagaimana adat menjadi ruang dialog—dialog dengan alam, sesama, dan Tuhan,” jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, komunitas, pelaku UMKM, hingga mahasiswa. Festival ini juga menghadirkan belasan stan pameran serta pasar adat sebagai bagian dari penguatan ekonomi lokal.

Festival Srimusim Lampuuk 2026 juga menjadi momentum penting karena bertepatan dengan satu tahun berdirinya Sekolah Adat Srimusim, yang difungsikan sebagai ruang belajar dan diskusi masyarakat berbasis nilai-nilai adat.

Sementara itu, Asisten I Sekdakab Aceh Besar, Farhan AP, menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Aceh Besar sangat mendukung pengembangan festival budaya sebagai bagian dari strategi pembangunan daerah.

Menurutnya, festival budaya tidak hanya berfungsi sebagai sarana pelestarian adat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui sektor pariwisata dan UMKM.

“Pemerintah menyambut baik kegiatan seperti ini. Festival budaya harus terus didorong karena memiliki dampak langsung terhadap kebangkitan UMKM, sektor pariwisata, serta mempererat nilai-nilai sosial dan adat di tengah masyarakat,” ujar Farhan.

Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan di berbagai kecamatan di Aceh Besar, dengan tetap menjadikan nilai syariat dan kearifan lokal sebagai fondasi utama.

Melalui Festival Srimusim Lampuuk 2026, Pemkab Aceh Besar ingin mendorong kolaborasi berkelanjutan antara pemerintah dan masyarakat dalam mengembangkan potensi budaya daerah.

Dengan demikian, festival budaya tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus penjaga identitas daerah yang kuat dan berkelanjutan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak